Sinopsis :
Menceritakan tentang seorang gadis yang terbangun tengah malam karena mendadak ingin buang air kecil, yang kemudian mencoba membangunkan keluarganya, namun apa boleh buat, dia pergi sendiri, karena keluarganya tidak ada yang ingin mengantarkannya.
Penulis Cerita : Michan Toby
STORY LANGSUNG TAMAT
Malam ini aku terbangun karena mendadak ingin ke kamar kecil. Kakiku beranjak keluar kamar, mataku melihat ibu dan sibungsu Fikri masih tidur lelap diruang tengah. Tadinya aku ingin membangunkan ibu untuk mengantarku, tapi mendadak aku sama sekali tak tega membangunkannya, sepertinya ibu kelelahan apalagi sepanjang perjalanan tadi ibu mengais Fikri yang rewel. Jadi lebih baik aku kembali ke kamar untuk membangunkan Aisyah saja.
"Syah, Aisyah bangun!" Tanganku coba menggoyang-goyangkan badannya. Tapi hanya erangan tak jelas yang keluar dari mulutnya. Ia memang sangat susah untuk dibangunkan. Mau tak mau aku pencet hidungnya. Biasanya dengan cara ini dia akan bangun. "Kakak apaan ih? Aisyah ngantuk!" Ia mendumel kesal padaku dengan cemberut.
"Syah antar kakak ke luar, kebelet pipis nih," pintaku. Dirumah nenek memang tak ada kamar mandinya. Hanya ada empang disamping yang diatasnya ada air pancuran yang dikelilingi oleh anyaman bambu.
"Ah sama Nanda aja sana. Aisyah males keluar," gumamnya lalu ia membalikkan posisi badannya menjadi menyamping kemudian kembali tidur.
Berhubung Aisyah tak mau mengantarku, jadi aku memilih membangunkan Nanda yang tertidur disebelah Aisyah. "Nanda, bangun Nan!
"Kenapa kak?"ujarnya sambil mengucek matanya.
"Antar kakak keluar yuk! Kakak kebelet!
"Ih kakak udah gede juga. Kakak bangunin aja Rofatun atau Aisyah," gumamnya lalu terlelap kembali.
Aku menghela nafas kesal. Tak ada pilihan lain selain membangunkan Rofatun. "Fa, Rofa bangun!" aku menggoyang-goyangkan badannya. Mudah-mudahan ia mau mengantarku.
Ia menguap lebar-lebar sambil mengucek matanya. "Kenapa kak?"
"Antar kakak keluar ayo!" Gumamku. Tanpa ba bi bu aku menarik tangannya hingga ia terduduk.
"Aku ngantuk, males! kakak minta antar sama Aisyah atau Nanda," gumamnya lalu kembali berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Mataku memandang mereka dengan perasaan kesal. Mereka benar-benar tak ada rasa persaudaraannya. Tak ada pilihan selain aku pergi keluar sendirian. Dengan bermodalkan nyali sedikit aku membuka pintu dapur yang menghubungkanku keluar. Baru saja kakiku melangkah, udara dingin sudah menyergapku, angin berhembus meniup helaian rambutku dan membuat bulu kudukku meremang. Tak jauh dari rumah nenek aku dapat melihat ada kebun rumpun bambu yang bergerek-gerak tertiup angin.
Aku melangkahkan kaki ke arah pancuran, mendadak telingaku menangkap seperti ada orang disana memainkan air. Namun aku tak bisa melihatnya karena terhalang oleh anyaman bambu. Aku juga tak berani melihatnya, nanti aku di sangka mengintip. Jadi terpaksa aku harus menunggunya.
Sepuluh menit aku menunggu. Aku sudah tak kuat lagi menahannya. Jadi ku putuskan untuk menghampirinya,
dari pada nanti aku pipis di celana. Itu lebih memalukan.
Berhubung malam ini terang cahaya bulan aku bisa melihat sosok yang membelakangiku didalam sana. Ia seorang perempuan berambut panjang. "Mbak udah belum, saya kebelet pipis nih," kataku dari luar.
Bukannya menjawab si mbaknya malah tertawa terkikik membuat bulu kudukku meremang. "Mbak saya serius, jangan main-main. Saya beneran kebelet nih!
Tubuhku tersentak kaget saat si mbak menengok ke arahku dengan memutarkan kepalanya 180 derajat. Mataku bisa melihat wajahnya yang pucat di iringi tawanya yang mengerikan. Mendadak aku teringat perkataan nenek, bahwa kita hanya boleh takut pada Tuhan dan kita tak boleh takut dengan makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia. Jadi aku mencopotkan bakiak nenek yang ku pakai. Lalu melemparkannya tepat diwajah si mbaknya. Hingga ia pun berhenti terkikik.
0 Comments
Post a Comment