Perkenalkan Namaku Aliffian, dan nama penaku adalah Wira. Entah mengapa semenjak hari itu, aku sering menulis cerita � cerita horor yang memiliki teka � teki klise. Tidak ada hal yang menarik untuk kuceritakan, apalagi kujelaskan. Karena kehidupanku datar, setiap hari aku hanya mengulang kejadian yang sama. Menulis adalah kesenangan ke-tiga ku selain bermain game dan menggambar. Beberapa karya telah aku upload ke wattpad dan pixiv. Dan di bawah ini adalah salah satu cerita horror yang ku buat.
Saat itu tengah malam, aku baru saja keluar dari kantor yang kira � kira berjarak 1km dengan rumahku.
�Ah sial, gara � gara kerja yang diberikan bos terlalu banyak. Jadinya aku harus pulang larut malam,� gumamku kesal.
Suasana dingin yang mencekam membuat bulu kudukku berdiri. Aku mulai berfikir yang aneh � aneh dengan suasana ini. Mulai dari pembunuhan sampai pemerkosaan yang biasa muncul diberita televisi. Hanya saja, ada sebuah creepy pasta yang pernah aku baca, jika biasanya pada tengah malam ada orang yang berpakaian badut dan mulai mengejar orang, lalu orang tersebut dibunuh.
*Plak
Aku menampar pipiku sendiri, �Apa sih yang kubayangkan, seharusnya aku membayangkan hal yang menyenangkan disaat seperti ini,� gumamku.
Diperjalanan ini, jalan yang kulewati sangat sepi. Tak ada seorang pun yang keluar dari rumahnya. �Mungkin orang � orang sudah pada tidur nyenyak,� pikirku.
Sudah 45 menit aku berjalan dari kantor menuju rumah, akhirnya sampai juga. Aku menaruh tas lalu melepas pakaian, setelah itu membasuh muka dan pergi tidur.
Keesokan harinya aku memulai kegiatan seperti biasa, pagi � pagi sekali aku berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi malam belum sempat kuselesaikan.
�Ugh, ternyata masih banyak yang belum selesai,� kataku dalam hati.
Setelah jam kantor menunjukkan jam 12 siang, pekerjaanku pun akhirnya selesai. Aku pergi ke kantin bersama teman projek ku. Dia berbicara tentang sesuatu hal yang menurutku tabu. Seperti eksperiment manusia dan sebagainya, katanya dia mendapat informasi itu melalui deepweb.
�Eh, kalian tahu tidak?� Ucapnya.
Dia mulai membicarakan sesuatu yang sepertinya serius, kami pun menyimaknya dengan tatapan yang serius pula.
�3 hari yang lalu, ada pembunuhan yang terjadi di jalan. Kencana,� ucapnya.
�Ah yang bener kau, jangan bercanda,� ucap salah satu temanku.
�Beneran bro, ane diberi tahu oleh teman ane yang kerja direstoran dekat sana,� ucapnya.
�Tapi kita ga liat ada beritanya di TV,� ucap salah satu temanku yang lain.
�Katanya sih, pembunuhan ini terlalu sadis, jadi pihak berwajib tidak mengijinkan penyiarannya,� jelasnya.
Aku hanya menyimak pembicaraan mereka, �Jalan Kencana ya,� gumamku.
Setelah itu aku kembali melanjutkan pekerjaanku, seharusnya tugas proyekku selesai jam 4 tadi. Tapi bos sialan, dia memberikan ku semua pekerjaannya agar dia cepat pulang kerumah. Dan alhasil aku terpaksa kerja lembur lagi.
Pada jam 11.50 akhirnya pekerjaanku selesai. Tidak seperti kemarin yang aku tunda dan kulanjutkan keesokannya, kali ini aku menyelesaikannya langsung. Dengan senang hati aku meninggalkan kantor yang sepi.
*Tap *Tap *Tap
Suara langkah kakiku terdengar ketika aku melewati lorong kantor. Suasana dikantor yang semulanya ramai kini menjadi sepi, sunyi dan hening.
Setelah aku menginjakkan kaki diluar kantor, aku mulai berjalan untuk pulang. Setengah perjalanan sudah kutempuh, lalu aku melihat tanda jalan yang menandakan bahwa ini adalah jalan Kencana. Mengingat cerita teman sekantorku tadi aku jadi ketakutan melewati jalan itu, akhirnya aku memilih untuk memutar jalan.
Dipertengahan jalan aku melihat seorang kakek berdiri didepan gerbang sebuah rumah, kakek itu memegang sebuah tongkat dan tentunya bungkuk. Dia melirikku dengan sorotan mata yang tajam, aku berusaha untuk mengacuhkannya. Tapi, kakek itu mendekat. Dia menggenggam tanganku dengan erat lalu berkata, �Nak, sebaiknya kamu tidur dirumah kakek saja.�
Aku tak tahu kenapa tiba � tiba sang kakek mengatakan seperti itu. Jujur saja, perkataannya membuatku takut, tiba � tiba saja dia mengatakan hal yang aneh kepada orang yang tidak dikenalnya. �Maaf kek, tapi saya sedang buru � buru,� ucapku.
Aku menarik tanganku dengan kencang agar terlepas dari genggamannya.
*Hosh *Hosh *Hosh
Nafasku terengah � engah, aku berlari sejauh mungkin dari kakek itu sampai si kakek tidak terlihat lagi. Setelah cukup jauh aku berhenti untuk mengatur nafas, tetapi di gang sebelahku. Aku mendengar suara jeritan oranglain.
�AAAAAAARRRRGGGGHHH!!!,�
Mukaku berubah pucat pasi, dari balik bayangan gang yang tersinari lampu jalan. Muncul seseorang berpakaian badut dengan riasan khasnya. Di tangan kirinya dia membawa sebuah balon dan tersenyum jahat kepadaku. Ditangan kanannya terlihat noda darah yang masih segar.
Melihat itu aku spontan langsung berlari. Badut yang semula berada di gang tersebut berjalan santai mengejarku. Tetapi dia berhenti diujung jalan. Dia berhenti ditengah jalan sebuah perempatan yang memisahkan jalan satu dengan yang lainnya. Kupikir, aku sudah meloloskan diri.
Sesampainya dirumah aku langsung bersih � bersih lalu pergi tidur, tetapi disaat aku hendak tidur. Dari balik gorden terdapat bayangan seseorang memegang balon ditangan kirinya. Aku terkejut, �Bu-bukankah itu badut yang tadi?!� Pikirku.
Aku sontak berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau untuk melindungi diri. Tetapi, disaat aku hendak kembali ke kamarku. Bayangan itu menghilang.
�Huft, apa aku terlalu lelah. Sehingga berimajinasi ada bayangan disana?� Gumamku.
�Tetapi, bukankah tidak wajar bila ini adalah imajinasiku?� Pikirku.
Aku mulai memasang gerakan waspada. Dengan sebilah pisau yang kugenggam, aku memegangnya erat � erat dan melihat sekitar. Tiba � tiba lampu di rumahku mati. Aku terkejut karena keadaan sekitar sekarang menjadi gelap gulita. Hanya hitam yang tampak disepanjang penglihatanku.
Aku meraba � raba sekitar, lalu kuambil sebuah senter untuk menerangi ruangan. Dengan hati � hati aku pergi menuju dapur. Kupikir dapur adalah tempat yang aman, tetapi aku salah. Saat aku menerangi sekitar, badut itu berdiri didekat kompor. Dia tertawa terbahak � bahak. Tawa yang memuakkan.
Dengan segenap tenaga aku berlari keluar rumah, tapi tak kusangka. Badut itu lebih cepat dariku. Dia memukul tengkuk ku sehingga aku jatuh kelantai. Setelah itu aku pingsan dan tak tahu apa � apa lagi.
Ketika terbangun aku sudah terbaring dirumah sakit, kepalaku pusing. Aku juga tidak bisa mengingat tentang kejadian semalam yang menimpa diriku.
�Waah, kenapa lu bisa gini bro?� ucap salah satu temanku.
�Entah, gw lupa apa yang terjadi semalem,� ucapku.
Salah satu temanku pun menyalakan TV, dia menyetel berita.
Bahwa terjadi pembunuhan kepada kakek berusia kurang lebih 80 tahun yang tinggal sendirian. Diduga, korban depresi dan mengakhiri hidupnya dengan mengiris nadi ditangannya dengan pisau dapur.
Setelah berita itu, aku mendapatkan email dari orang yang tak kukenal. Isinya adalah sebuah video amatir. Setelah kubuka dan kusetel, aku hanya diam membatu.
Nama Pembuat : Wiradesa
Saat itu tengah malam, aku baru saja keluar dari kantor yang kira � kira berjarak 1km dengan rumahku.
�Ah sial, gara � gara kerja yang diberikan bos terlalu banyak. Jadinya aku harus pulang larut malam,� gumamku kesal.
Suasana dingin yang mencekam membuat bulu kudukku berdiri. Aku mulai berfikir yang aneh � aneh dengan suasana ini. Mulai dari pembunuhan sampai pemerkosaan yang biasa muncul diberita televisi. Hanya saja, ada sebuah creepy pasta yang pernah aku baca, jika biasanya pada tengah malam ada orang yang berpakaian badut dan mulai mengejar orang, lalu orang tersebut dibunuh.
*Plak
Aku menampar pipiku sendiri, �Apa sih yang kubayangkan, seharusnya aku membayangkan hal yang menyenangkan disaat seperti ini,� gumamku.
Diperjalanan ini, jalan yang kulewati sangat sepi. Tak ada seorang pun yang keluar dari rumahnya. �Mungkin orang � orang sudah pada tidur nyenyak,� pikirku.
Sudah 45 menit aku berjalan dari kantor menuju rumah, akhirnya sampai juga. Aku menaruh tas lalu melepas pakaian, setelah itu membasuh muka dan pergi tidur.
Keesokan harinya aku memulai kegiatan seperti biasa, pagi � pagi sekali aku berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi malam belum sempat kuselesaikan.
�Ugh, ternyata masih banyak yang belum selesai,� kataku dalam hati.
Setelah jam kantor menunjukkan jam 12 siang, pekerjaanku pun akhirnya selesai. Aku pergi ke kantin bersama teman projek ku. Dia berbicara tentang sesuatu hal yang menurutku tabu. Seperti eksperiment manusia dan sebagainya, katanya dia mendapat informasi itu melalui deepweb.
�Eh, kalian tahu tidak?� Ucapnya.
Dia mulai membicarakan sesuatu yang sepertinya serius, kami pun menyimaknya dengan tatapan yang serius pula.
�3 hari yang lalu, ada pembunuhan yang terjadi di jalan. Kencana,� ucapnya.
�Ah yang bener kau, jangan bercanda,� ucap salah satu temanku.
�Beneran bro, ane diberi tahu oleh teman ane yang kerja direstoran dekat sana,� ucapnya.
�Tapi kita ga liat ada beritanya di TV,� ucap salah satu temanku yang lain.
�Katanya sih, pembunuhan ini terlalu sadis, jadi pihak berwajib tidak mengijinkan penyiarannya,� jelasnya.
Aku hanya menyimak pembicaraan mereka, �Jalan Kencana ya,� gumamku.
Setelah itu aku kembali melanjutkan pekerjaanku, seharusnya tugas proyekku selesai jam 4 tadi. Tapi bos sialan, dia memberikan ku semua pekerjaannya agar dia cepat pulang kerumah. Dan alhasil aku terpaksa kerja lembur lagi.
Pada jam 11.50 akhirnya pekerjaanku selesai. Tidak seperti kemarin yang aku tunda dan kulanjutkan keesokannya, kali ini aku menyelesaikannya langsung. Dengan senang hati aku meninggalkan kantor yang sepi.
*Tap *Tap *Tap
Suara langkah kakiku terdengar ketika aku melewati lorong kantor. Suasana dikantor yang semulanya ramai kini menjadi sepi, sunyi dan hening.
Setelah aku menginjakkan kaki diluar kantor, aku mulai berjalan untuk pulang. Setengah perjalanan sudah kutempuh, lalu aku melihat tanda jalan yang menandakan bahwa ini adalah jalan Kencana. Mengingat cerita teman sekantorku tadi aku jadi ketakutan melewati jalan itu, akhirnya aku memilih untuk memutar jalan.
Dipertengahan jalan aku melihat seorang kakek berdiri didepan gerbang sebuah rumah, kakek itu memegang sebuah tongkat dan tentunya bungkuk. Dia melirikku dengan sorotan mata yang tajam, aku berusaha untuk mengacuhkannya. Tapi, kakek itu mendekat. Dia menggenggam tanganku dengan erat lalu berkata, �Nak, sebaiknya kamu tidur dirumah kakek saja.�
Aku tak tahu kenapa tiba � tiba sang kakek mengatakan seperti itu. Jujur saja, perkataannya membuatku takut, tiba � tiba saja dia mengatakan hal yang aneh kepada orang yang tidak dikenalnya. �Maaf kek, tapi saya sedang buru � buru,� ucapku.
Aku menarik tanganku dengan kencang agar terlepas dari genggamannya.
*Hosh *Hosh *Hosh
Nafasku terengah � engah, aku berlari sejauh mungkin dari kakek itu sampai si kakek tidak terlihat lagi. Setelah cukup jauh aku berhenti untuk mengatur nafas, tetapi di gang sebelahku. Aku mendengar suara jeritan oranglain.
�AAAAAAARRRRGGGGHHH!!!,�
Mukaku berubah pucat pasi, dari balik bayangan gang yang tersinari lampu jalan. Muncul seseorang berpakaian badut dengan riasan khasnya. Di tangan kirinya dia membawa sebuah balon dan tersenyum jahat kepadaku. Ditangan kanannya terlihat noda darah yang masih segar.
Melihat itu aku spontan langsung berlari. Badut yang semula berada di gang tersebut berjalan santai mengejarku. Tetapi dia berhenti diujung jalan. Dia berhenti ditengah jalan sebuah perempatan yang memisahkan jalan satu dengan yang lainnya. Kupikir, aku sudah meloloskan diri.
Sesampainya dirumah aku langsung bersih � bersih lalu pergi tidur, tetapi disaat aku hendak tidur. Dari balik gorden terdapat bayangan seseorang memegang balon ditangan kirinya. Aku terkejut, �Bu-bukankah itu badut yang tadi?!� Pikirku.
Aku sontak berlari menuju dapur dan mengambil sebuah pisau untuk melindungi diri. Tetapi, disaat aku hendak kembali ke kamarku. Bayangan itu menghilang.
�Huft, apa aku terlalu lelah. Sehingga berimajinasi ada bayangan disana?� Gumamku.
�Tetapi, bukankah tidak wajar bila ini adalah imajinasiku?� Pikirku.
Aku mulai memasang gerakan waspada. Dengan sebilah pisau yang kugenggam, aku memegangnya erat � erat dan melihat sekitar. Tiba � tiba lampu di rumahku mati. Aku terkejut karena keadaan sekitar sekarang menjadi gelap gulita. Hanya hitam yang tampak disepanjang penglihatanku.
Aku meraba � raba sekitar, lalu kuambil sebuah senter untuk menerangi ruangan. Dengan hati � hati aku pergi menuju dapur. Kupikir dapur adalah tempat yang aman, tetapi aku salah. Saat aku menerangi sekitar, badut itu berdiri didekat kompor. Dia tertawa terbahak � bahak. Tawa yang memuakkan.
Dengan segenap tenaga aku berlari keluar rumah, tapi tak kusangka. Badut itu lebih cepat dariku. Dia memukul tengkuk ku sehingga aku jatuh kelantai. Setelah itu aku pingsan dan tak tahu apa � apa lagi.
Ketika terbangun aku sudah terbaring dirumah sakit, kepalaku pusing. Aku juga tidak bisa mengingat tentang kejadian semalam yang menimpa diriku.
�Waah, kenapa lu bisa gini bro?� ucap salah satu temanku.
�Entah, gw lupa apa yang terjadi semalem,� ucapku.
Salah satu temanku pun menyalakan TV, dia menyetel berita.
Bahwa terjadi pembunuhan kepada kakek berusia kurang lebih 80 tahun yang tinggal sendirian. Diduga, korban depresi dan mengakhiri hidupnya dengan mengiris nadi ditangannya dengan pisau dapur.
Setelah berita itu, aku mendapatkan email dari orang yang tak kukenal. Isinya adalah sebuah video amatir. Setelah kubuka dan kusetel, aku hanya diam membatu.
Nama Pembuat : Wiradesa
0 Comments
Post a Comment