40 Days


Sinopsis : 
Apakah kau percaya jika seseorang telah meninggal dunia. Maka selama 40 hari dia akan berada disekitarmu?
Penulis Cerita : Michan Toby
STORY LANGSUNG TAMAT

"Sampai kapan kamu akan tetap disini, Nay? Ayo kita pulang!" Mata Naya melirik seseorang yg sedari tadi terus menemaninya di area perkuburan. Seorang perempuan dengan gurat wajah sendu penuh kesedihan.

Naya menggeleng pelan. "Tidak! Naya mau disini saja nemenin ibu. Ibu pasti kesepian sendirian disini." Gumamnya. Lengannya terlihat gemetar ketika ia mengusap nisan yg tertancap angkuh didepannya. Disitu tertera nama ibunya yg baru saja meninggal dunia. Kenapa Tuhan memanggil ibunya secepat ini. Di saat ia masih butuh sosok seorang ibu. Mata itu berkaca-kaca mengenang semua memori ketika ibunya masih hidup. Naya yg kadang selalu membangkang. Tidak bisa diberi tahu!

"Ayolah Nay kita pulang. Hari sudah mulai mendung. Sebentar lagi pasti akan turun hujan. Kakak gak mau kamu sakit," Maya coba membujuk. Ia tahu ini adalah hal yg paling berat yg harus dihadapi. Tapi kematian adalah sesuatu yg pasti. Tidak bisa ditawar. Karena itu merupakan kehendak Tuhan.

"Biarlah jika Naya sakit! Dengan begitu Naya bisa lebih cepat ketemu ibu!" Gumamnya masa bodoh.

"Sadar kamu Nay! Kamu pikir kamu  doang yg sedih. Kakak juga sedih. Terus kalo kamu mati, kakak sama siapa huh?"  Tubuhnya bergetar dengan nafasnya turun naik. Air mata itu kembali turun membasahi wajahnya. Ntah bagaimana nasibnya jika adik satu-satunya juga meninggalkannya.

"Ya sudah, ayo pulang!" ucapnya lemah. Ada sebersit rasa bersalah saat ia mengatakan hal itu dan membuat kakaknya menangis..

Pagi hari Naya terbangun ketika ia mendengar suara bisikkan lembut ibunya yg menyuruhnya untuk bangun. Akh suara itu sangat jelas memanggil namanya. Naya ingat, tiap pagi ibunya selalu membangunkannya. Tapi Naya selalu marah-marah, agar ibunya tak membangunkannya sepagi ini. Tapi kalau ibunya tak membangunkannya, ia juga marah-marah, karena itu artinya ia telat kesekolah.

Dengan mata sembabnya ia keluar. Semalaman ia menangis, meratapi kepergian ibunya. Mendadak telinganya mendengar suara berisik. Kakinya berjinjit mencari asal sumber suara itu. Ia mengucek matanya berkali-kali. Bukankah itu ibunya. Ibunya yg telah meninggal dunia kemarin.

"Ibuuu!" Naya berteriak. Ia berlari untuk memeluknya. Tapi wusssh... seperti angin bayangan itu hilang. "Ibu! Ibu..! Ibu dimana?" Ia berteriak. Kenapa ibunya malah menghilang. Apakah ia tak merindukannya, seperti Naya yg merindukannya.

"Kamu kenapa Nay? Kenapa kamu teriak-teriak?" Maya sedikit panik. Tadi ia mendengar suara teriakkan Naya dari arah dapur.

"Tadi ibu ada disini. Dia berdiri di depan wastafel ini. Waktu Naya berlari untuk memeluk ibu, ibu malah ngilang?" Gumamnya sambil mempraktekkan kejadian tadi.

Maya menatap adiknya penuh kesedihan. Ia tahu ini pasti berat untuk adiknya"Kakak tahu ini berat buat kamu. Kakak juga sama kayak kamu. Tapi mungkin kamu berhalusinasi saja."

"Tapi Naya tadi beneran lihat ibu, kak!" Gumamnya bersikukuh. Naya yakin ia tidak berhalusinasi. Ia melihat ibunya berdiri membelakanginya.

Maya hanya tersenyum lembut. Ia maklum. Terkadang seseorang berhalusinasi ketika rindu namun tak tersampaikan. "Lebih baik kamu tidur lagi gih. Biar kakak buat sarapan."

Naya sedari tadi hanya menatap ke satu arah dengan pandangan sedih. Ia bahkan tak peduli dengan temannya yg sedari tadi memperhatikannya. "Nay liat apaan sih?" Raya coba mengikuti pandangan Naya. Tapi kosong. Tak ada apa-apa. Apa yg sebenarnya Naya lihat hingga sefokus itu. Mengabaikannya yg datang untuk menemaninya. Tadi Kak Maya datang ke rumahnya memintanya untuk menemani Naya sebentar.

Naya melirik sekilas ke arah Raya. "Apa kamu percaya Ray Dengan yg kulihat? Aku melihat ibu disana!

Raya melihat dengan pandangan berkerut. Kosong! Ia tak melihat apapun disana. "Nay jangan main-main!" Raya mulai sedikit takut. Bulu kuduknya meremang. Apa benar yg dikatakan Naya, bahwa Naya  melihat ibunya yg sudah meninggal. Apakah temannya ini punya kemampuan khusus? Tapi selama ini Naya sama sekali tak punya kemampuan itu. Atau Jangan-jangan Naya...

"Kamu pikir aku bohong? Nggaklah, buat apa? Tapi aku gak mau ganggu ibu. Aku gak berani. Aku takut ibu malah ngilang seperti pagi." Gumamnya. Naya kemudian berdiri meninggalkan sahabatnya yg terheran-heran kebingungan. Ia harus memberitahu Kak Maya. Jangan sampai temannya menjadi gila.

Naya mengikuti ibunya dari belakang. Mau kemanakah ibunya pergi? Kaki itu terus melangkah, sesekali ia mengusap pelipisnya. Capek sekali rasanya! "Ibu ibu mau pergi ke mana sih?" Naya bertanya. Tapi itu pertanyaan bodoh. Akh ia lupa. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan ibunya. Hanya sekedar bisa melihat apa yg ibunya lakukan saja.

Matanya menilik sekitar. Ini adalah kebun. Banyak sekali tanaman sayuran disini. Kebun siapa ini? Apakah ini kebun ibunya. "Ia melihat ibunya seperti gerakkan menjingjing ember. Tak jauh dari kebun ada sungai. Ibunya melakukan gerakkan mengambil air lalu menyiramkannya pada tanaman-tanaman sayur itu. Naya terus mengikuti ibunya. Ia lelah juga dari tadi ia mondar-mandir. Ia kemudian terduduk. "Jadi ibu melakukan kegiatan ini tiap hari," gumamnya sambil menatap wajah ibunya. Ia mulai menyadari guratan wajah lelah ibunya yg menua.

40 hari. Ia tahu tentang cerita ini yg pernah ia dengar waktu ia masih kanak-kanak. Apabila seseorang meninggal, jiwanya akan tetap ada selama 40 hari. Ia akan melakukan kegiatan yg sama selagi masih hidup. Naya tak pernah berpikir cerita itu benar atau tidak. Yg ia tahu, meninggal itu adalah ditinggalkan untuk selama-lamanya.

Satu hal yg Naya sesali sekarang, kenapa ia tak meluangkan waktu yg banyak untuk ibunya. Seperti mengobrol, bercanda sekedar tertawa bersama atau mungkin sedikit bergosip. Naya terlalu sibuk dengan dunianya. Ia selalu marah-marah saat ibunya mengganggu waktu belajarnya. Tugas sekolahnya memang selalu menumpuk. Tapi saat libur, ia malah sibuk dengan smartphonenya. Ia lebih memilih chatting dengan orang yg bahkan baru dikenalnya di dunia maya.

Hari-hari berjalan dengan biasanya. Naya yg selalu memperhatikan ibunya tiap hari. Hingga sedikit banyak ia hapal dengan kebiasaannya. Seperti biasa hari ini Naya pulang sore. Kakinya melangkah tergesa-gesa pulang ke rumah. Ia tak mau melewatkan waktu untuk melihat ibunya. Apalagi waktu berjalan begitu cepat. Itu artinya semakin dekat ia berpisah.

Naya berjongkok di depan ibunya. Matanya melihat ibunya yg tertidur di atas sofa. Dengan jari-jarinya ia ingin mengelus wajah itu yg terbaring dengan gurat lelah. Sedikit saja bolehkan ia menyentuhnya? Tapi bagaimana jika ia menyentuhnya ibunya menghilang lebih cepat. Tidak! Naya kembali menarik lengan itu.
Tanpa Naya tahu seseorang memperhatikan tingkah lakunya.

Maya menarik nafasnya lalu membuangnya lewat mulut. Ia harus berbicara. Jangan sampai adiknya terlihat semakin aneh. "Nay, kakak ingin bicara!

Naya melirik kakanya yg sudah berdiri di sampingnya. Pandangan Naya berkerut. "Kenapa?" Tanyanya.

Ekor mata Naya menangkap kakaknya hendak duduk di kursi yg sedang ditiduri ibunya. Dengan cepat Naya bereaksi. "Jangan duduk disini! Kakak duduk disana saja!" Naya sedikit panik. Astaga hampir saja!

Maya memandangnya dengan pandangan mengerinyit. Benar kata Raya waktu hari itu. Akhir-akhir ini tingkah adiknya semakin aneh. Tapi mau tak mau ia mengikuti perintah Naya. "Duduk yg benar Nay! "Maya merasa adiknya tak menghiraukannya. Adiknya malah memilih jongkok di lantai membelakanginya. Apakah sofa itu lebih penting darinya. Sehingga Naya terus memperhatikannya.

"Jadi kenapa?" Tanyanya. Naya akhirnya duduk di kursi satunya lagi. Yg bersebrangan dengan kursi yg di duduki Maya.

"Tadi wali kelas kamu nelpon. Katanya akhir-akhir ini kamu tidak pernah fokus saat belajar. Tak pernah mengerjakan PR, kamu juga jadi jarang bergaul dengan teman-temanmu. Kamu kenapa?" Tanyanya.

Nay cuma menduduk. Dulu memang Naya adalah anak yg terkenal rajin. Selalu mengerjakan PR. Karena tugas sekolah yg menumpuk. Tiap hari ia selalu berkutat pada buku dan buku. Hingga ia sedikit lupa meluangkan waktu. Tapi beberapa hari ini Naya juga sibuk. Sibuk memerhatikan ibunya. Hingga ia tak pernah mengerjakan PR, di sekolah pun pikirannya cuma Fokus pada ibunya. Mendadak Ia tersenyum melirik ibunya yg masih tertidur pulas.

"Akhir-akhir ini kakak perhatikan kamu bersikap aneh Nay?" gumamnya.

"Nay gak aneh!" Selanya. Ia tidak suka bila orang-orang menganggapnya aneh. Ia hanya rindu dengan ibunya. Dan sekarang Naya diberi kesempatan 40 hari melihat ibunya yg sudah meninggal. Apa itu aneh?

"Kamu sering ngobrol sendiri. Senyum sendiri. Memerhatikan sesuatu terus menerus. Apa itu gak aneh, Nay?" Tanya Maya.

"Naya gak aneh! Nay cuman memerhatikan ibunya Nay. Terus apanya yg aneh?!" Ia sedikit berteriak.

"Tapi ibu sudah meninggal, Nay!" Ucapnya emosi. Ia ingin adiknya sadar bahwa sekarang ibunya sudah tidak ada.

"Tapi ibu ada disini!! Disini dengan Nay!! Dengan kakak. Liat ibu sedang tertidur pulas di kursi. Kenapa sekarang orang-orang menganggap Nay aneh?" Ia sedikit berteriak disela-sela isakannya. Kenapa orang-orang tak percaya. Bahkan kakaknya sendiri juga tak percaya. Naya berdiri lalu menghambur ke kamar. Dia menutup pintunya keras-keras.

Sudah malam Naya tak juga kunjung keluar dari kamar. Maya menghela nafasnya. Kalau begini ia harus mengalah. Naya memang sedikit kekanak-kanakkan.
"Nay boleh kakak masuk?" Maya berbicara tepat didepan pintu kamar. Tapi dari dalam tak ada jawaban. Pasti Naya masih marah. Lengan Maya menarik knop pintu. Ia melihat Naya terbaring memunggunginya.

"Kakak tahu kamu tidak tidur. Kamu masih marah, ya?" Tanyanya. Matanya memandang langit-langit kamar. Untuk menahan air matanya yg hendak keluar. "Kakak juga kangen sama ibu! Apalagi masakannya. Kakak juga kangen dengan nasehat-nasehat ibu" Gumamnya. Naya membalikkan badannya menghadap kakaknya. Ia melihat bibir kakaknya yg tersenyum. Namun mata itu berkaca-kaca.

"Mending sekarang kita makan, ayo! Kakak sudah lapar," gumamnya.

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa hari ke- 40 telah datang. Itu artinya hari perpisahan telah tiba. Naya sebenarnya tak ingin pergi kesekolah. Bolehkah ia membolos? Tapi hari ini di sekolah ada ulangan.
Hingga mau tak mau ia harus pergi.

Naya terus melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 dan itu artinya sebentar lagi ibunya akan pergi. Ibunya meninggal pukul 11.30 siang itu. Ia hanya punya waktu 30 menit. Apa boleh ia membolos sebentar saja. Naya pura-pura sakit. Ia minta agar guru mengizinkannya ke UKS dengan diantar Raya.

"Loh Nay UKS sebelah sana?" Raya terheran saat Naya berjalan ke arah berlawanan dari UKS.

"Sst.. aku mau kabur!  Aku mesti ketemu ibu, Ray. Ibu mau pergi hari ini," gumamnya.

Raya memandang iba. Raya merasa kalau Naya belum ikhlas melepas ibunya pergi. "Nay kamu gak apa-apakan?" Tanyanya.

"Bantu aku kabur Ray. Tolong sekali ini aja. Please. Aku mesti ketemu ibu. Aku janji bakal balik ke sekolah."

Hati Raya luluh saat mata itu memandangnya dengan tatapan mengiba. Seolah-olah ini adalah hidup dan matinya Naya "Ya udah ayo ikut!" Ucap Raya. Ia tahu ada jalan tikus yg menghubungkannya dengan luar sekolah.  .

Naya segera berlari saat ia berhasil keluar dengan bantuan Raya. Naya berlari sekuat yg ia bisa. Dan kenapa kendaraan mendadak susah. Ia tak henti-henti melirik jam tangannya.  Sebentar lagi. Sebentar lagi. Tunggu Naya bu!

Sebuah angkot berhenti di depan Naya. Naya tersenyum sumringah. Mudah-mudahan masih sempat. Ia segera turun, dengan langkah tergesa-gesa ia berlari menuju rumah.
"Ibu.. ibu.. ibu dimana? Naya pulang bu
Nay pulang, ibu jangan pergi dulu." Naya mencari keseluruh penjuru rumah. Tapi tidak ada! Apa ibunya sudah pergi. Naya mencari ke luar halaman namun juga tak ada. Kemana ibu? Naya kembali masuk kerumah dengan terisak. Ibunya sudah pergi.

Naya terduduk di atas sofa tempat ibunya waktu itu tidur. Ia tersedu, ibunya sudah pergi. Ia telat! "Nay!" Mata Naya menoleh. Ia mendengar suara ibunya. "Ibu... ibu!" Nay celingak-celinguk.

"Nay!" Lagi-lagi suara itu memanggilnya.

"Ibu..!! " Naya berteriak ketika melihat ibunya sudah ada di depannya dengan senyuman.

"Naya sayang ibu. Naya minta maaf kalo selama ini Nay nyusahin ibu. Nay minta maaf. Maafin Nay!" ucapnya terisak.

"Sudah waktunya ibu pergi. Ibu juga sayang Nay." Lengan itu terulur ke arah Naya. Dengan lengan gemetar, Naya coba menyentuhnya. Rasanya seperti kau menyentuh cahaya senter. Atau mungkin seperti menyentuh bayangan. Tidak dingin. Tidak juga hangat. Tidak juga tersentuh. Naya tersenyum. Ia bisa mengucapkan kata-kata itu akhirnya. "Nay sayang ibu," gumamnya.

Related Posts

0 Comments

Post a Comment