Mommy Part 4

Sinopsis : 
Yuki dan kedua orangtunya tinggal di tengah hutan. Awalnya, kehidupan mereka biasa saja, namun, semenjak ayah yuki sering pulang larut malam sambil sesekali membawa beberapa orang ke rumah, kini kehidupannya berubah.
Penulis Cerita : Fujiwara Yuki
SEMUA PART TERSEDIA

Hari-hari tak terasa berlalu dengan cepat, ubi di ladang sudah panen dan sekarang selesai ditanam kembali, buah-buahan banyak yang matang, berry hutan pun berlimpah. Sudah kurang lebih 5 bulan setelah ibu tertidur aku menjaga semuanya sendiri. Tubuh ibu tampak semakin kurus sekarang, saat aku mencoba menyuapinya ia tidak pernah mau membuka mulutnya, bahkan matanya juga. Mungkin ini yang dia maksud dengan tertidur lama, tapi ini sudah sangat lama, kapan ibu bangun.

Saat aku sedang menutup jendela depan rumah karena hari mulai gelap, tak sengaja aku melihat dia di kejauhan yang sedang berjalan ke arah sini. Itu dia, orang yang sudah menyiksa ibuku dan meninggalkan kami berdua. Dan sekarang, ia kembali. Aku sudah berjanji kepada ibu bahwa aku akan membuatnya membayar apa yang telah ia perbuat kepada ibu beberapa bulan yang lalu.

Aku lalu mengunci pintu kamar ibu, dan menyimpan kuncinya. Aku tidak sudi orang itu bertemu dengan ibuku, aku tidak ingin ia mengganggunya. Sudah lama kusiapkan saat ini, selamat datang di pemakamanmu ayah.

Aku mematikan semua lentera yang sebelumnya baru kuhidupkan, aku berusaha menyamakan kegelapan rumah ini sama gelapnya dengan di luar sana. Ia lalu masuk kedalam rumah, dengan perlahan aku menutup pintunya dan menguncinya tanpa suara. Aku menang dikegelapan, karena ia tidak bisa melihat dalam gelap dengan mata rabunnya itu.

Aku memulai aksiku dengan menjatuhkan sebuah gelas ke lantai hingga gelas itu pecah ,dengan tersenyum tipis aku perhatikan ekspresi wajahnya yang mulai berubah. Kemudian aku mulai menangis, lalu aku tertawa, sesekali aku juga memanggil-manggilnya dengan suara lirih.

"Ayah.... Ayah... " Lirihku

Wajahnya perlahan mulai memucat, matanya tampak memaksa untuk melihat dalam kegelapan. Sesekali kulihat ia menyeka dahinya. Aku senang bisa membuatnya ketakutan seperti itu.

" Sa-sayang... Apa itu kau? Ini aku, aku datang untuk meminta maaf padamu dan ibumu, sayang." Ucapnya seraya meraba-raba dinding.

BERSAMBUNG...

0 Comments

Post a Comment